Syarat Sah dan Niat Shalat

Rukun Shalat

adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat salat.

Tuntunan Gerakan Shalat

.

Bacaan Shalat

Bacaan setiap gerakan shalat.

Praktek Shalat Sempurna

Tata Cara Shalat sempurna mulai dari Takbir Sampai Salam.

Jumat, 28 Agustus 2015

Manfaatkan Waktu Mustajab di Sore Hari Jum'at!




Sebaik-baik hari bagi umat Islam dalam sepekan adalah hari Jum’at. Ia-lah sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta’ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan pada shalat Subuh, membaca surat Al-Kahfi, shalat Jum’at berikut amalan-amalan yang menyertainya, dan amal ibadah lain yang sangat dianjurkan sekali pada hari Jum’at. Di dalamnya juga terdapat satu waktu di mana doa begitu mustajab; dijanjikan akan dikabulkan. Tidaklah seorang hamba yang beriman memanjatkan do’a kepada Rabbnya pada waktu itu kecuali  Allah akan mengabulkannya selama tidak berisi pemutusan silaturahmi dan tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan dan memanfaatkan waktu yang berbarakah ini.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah membicarakan tentang hari Jum’at lalu beliau bersabda,
« فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ »
“Pada hari  itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim shalat berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, -yang kami pahami- untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (HR. Bukhari nomor 893[1]dan Muslim nomor 852) [2]

Hadits ini berkaitan dengan salah satu keutamaan hari Jum’at di mana pada hari tersebut Allah akan mengabulkan doa orang yang meminta kepada-Nya. Doa yang dipanjatkan pada saat itu mustajab (mudah dikabulkan) karena bertepatan dengan waktu pengabulan doa.

Tetapi para ulama berbeda pendapat tentang waktu dikabulkannya doa pada hari Jum’at ini. Sampai-sampai Ibnu Hajar[3] dan Asy-Syaukani[4] menyebutkan empat puluh tiga pendapat beserta argument masing-masingnya. Dari kesemuanya, pendapat yang paling populer tentang waktu mustajab pada hari Jum’at ini ada dua; yaitu 
Pertama, sejak duduknya imam di atas mimbar hingga shalat selesai,
Kedua, di akhir waktu setelah shalat Ashar. Pendapat ini yang dipilih oleh Sayyidah Fatimah Radiyallahu anha, karena itulah para ulama setelahnya menyebut sore hari di hari Jum’at adalah ‘Saah Fatimiyyah ‘ Tentang hal ini, Ibnu Hajar berkomentar, “Tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling kuat adalah hadits Abu Musa (sejak duduknya imam di atas mimbar hingga shalat selesai) dan hadits Abdullah bin Salam (akhir waktu setelah shalat Ashar).”
Jadi, mari tetap memuliakan dua waktu tersebut dengan banyak-banyak berdoa, karena doa kita pasti dikabulkan, entah kapan; diijabahi langsung, atau dihindarkan dari bahaya yang setara dengan doanya, atau sebagai penghapus dosa, atau menjadi simpanan di akhirat kelak. Wallahu A’lam bish Shawab.



[1]  .  Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah Al-Bukhari Al-Ju’fi, Al-Jâmi’ush Shahîh Al-Mukhtashar, Tahqiq : Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha, Cet. III, 1407 H/ 1987 M, Dar Ibni Katsir-Beirut, juz I, hal.  316,
[2]  . Muslim bin Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi, Shahîh Muslim, Tahqiq : Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Dar Ihya’it Turats Al-Araby-Beirut, juz II, hal.  583.
[3]  .  Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Fathul Bârî Syarh Shahihil Bukhârî, Cet. I, 1410 H/ 1989 M, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut, juz II, hal. 529-535.
[4]  .  Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Nailul Authâr Syarh Muntaqal Akhbâr, Darul Fikr, Beirut, juz III, hal. 297-299.

Amalan Sunnah di Masjid



Selasa, 27 Mei 2014

POSISI YANG MEMBATALKAN BERJAMAAH


Sabtu, 10 Mei 2014

Shalat Jumat Plus Dhuhur




Tanya
Assalamu'alaikum,
Utsd …bgaimana hukum@ sorag melakukan lagi shalat dhuhur setlah shalat jum'at( shalat igadah jum'at ) ...? Trimks


Jawab

wa'alaikum salam wr. wb.
Hukum mengulangi shalat jum'ah dengan mengerjakan shalat dhuhur (i'adah dhuhur) adalah TIDAK DIPERBOLEHKAN jika tanpa ada udzur seperti semua syarat dan rukun shalat jum'atnya telah terpenuhi, dan tidak ada pendapat ulama' yang menyatakan tidak sah (khilaf). Adapun jika karena ada udzur, seperti shalat jum'ah dengan jamaah kurang dari 40 orang, atau masih ada perbedaan ulama' yang menyatakan tidak sah jum'atnya atau terdapat ta'addud jumah (pengerjaan shalat jum'at lebih dari satu masjid) dalam satu daerah atau desa, maka boleh bahkan bisa dianjurkan untuk mengulangi dengan mengerjakan dhuhur untuk keluar dari khilaf ulama'.

حواشي الشرواني (2/ 262)
(وظهر معذور الخ) عبارة النهاية ولو صلى معذور الظهر ثم أدرك الجمعة أو معذورين يصلون الظهر سن الاعادة كما شمله كلامهم وأفتى به الوالد رحمه الله تعالى اه زاد سم عن شرح الارشاد ما نصه ولا تجوز إعادة الجمعة ظهرا وكذا عكسه لغير المعذور ا ه

حواشي الشرواني (2/ 429)
(وإن سبقت إحداهما ولم تتعين إلخ) وقد أفتى الوالد رحمه الله تعالى في الجمع الواقعة في مصر الآن بأنها صحيحة سواء أوقعت معا أو مرتبا إلى أن ينتهي عسر الاجتماع بأمكنة تلك الجمع فلا يجب على أحد من مصليها صلاة ظهر يومها لكنها تستحب خروجا من خلاف من منع تعدد الجمعة بالبلدة وإن عسر الاجتماع في مكان فيه ثم الجمع الواقعة بعد انتهاء الحاجة إلى التعدد غير صحيحة فيجب على مصليها ظهر يومها نهاية قال ع ش قوله م ر لكنها تستحب إلخ هذا مفروض فيما إذا تعددت واحتمل كون جمعته مسبوقة أما إذا لم تتعدد أو تعددت وعلم أنها السابقة فلا يجوز إعادتها جمعة بمحله لاعتقاد بطلان الثانية ولا ظهرا لسقوط فرضه بالجمعة ولم يخاطب بالظهر في ذلك اليوم اه.
ومعلوم أن ما ذكره إذا كانت جمعة جامعة لسائر الشروط أيضا يقينا أو ظنا بخلاف ما إذا شك في بعضها كأن تردد في بعض الاربعين
المحسوبين هل هو من أهل الكمال أم لا ولم يتبين الحال لزمته إعادة الجمعة ظهرا كما مر عن الكردي ويأتي عن سم وأيضا تقدم عن قريب عن شيخنا وع ش ما يتعلق بجمع مصر راجعه قول المتن (صلوا ظهرا) ولا يقال أنا أوجبنا عليه صلاتين الجمعة والظهر بل الواجب واحدة فقط إلا أنا لما لم نتحقق ما تبرأ به الذمة أوجبنا كليهما ليتوصل بذلك إلى براءة ذمته بيقين وهذا كما لو نسي إحدى الخمس ولا يعلم عينها فإنا نعلم أن الواجب عليه واحدة فقط وتلزمه بالخمس لتبرأ ذمته بيقين ثم رأيت في حاشية الشيخ عبد البر الاجهوري على المنهج عن الرملي ما يوافقه ع ش


Jumat, 09 Mei 2014

Makmum Masbuk

         

Tanya
Assalamu’alaikum
Ustadz kalau makmum yg telat ikut bergabung pd saat sesudah ruku apakah msh d termasuk jama'ah            ustadz?
Kalau  makmum yg terlambat tdk dpt phl berjama'ah,y untuk apa ikut jama'ah

Jawab
yang makruh di atas itu maksudnya ia menjadi makmum ketika ia dalam keadaan shalat. Gambaran sederhana, ia sudah melakukan sholat sendiri kemudian ada orang lain datang , setelah itu ia niat menjadi makmum kepada orang yang baru datang tersebut , hukumnya makruh. Sama juga dengan gambaran di atas, ketika imam salam, artinya mereka telah berada di dalam sholat sendiri-sendiri, jika salah satu niat menjadi makmum kepada yang lain maka berarti ia niat menjadi makmum ketika sedang di tengah-tengah sholat
Berbeda jika ia memulai menjadi makmum di awal melakukan sholat., seperti makmum yang telat, ia memulai sholatnya dengan niat menjadi makmum kepada imam yang berada di tengah sholat, kalau ini tidak apa-apa.

Tanya
saya prnh denger lw makmum yg terlambat lalu ikut berjama'ahny pd saat imam sdh sujud atw sdh ruku,dy bru takbir n cpt2 mau nyusul imamnya.itu tdk trhtng mngikuti jama'ah,tlonk penjelasany ustadz

Jawab


begini, kalau makmun telat mislanya ketika datang imam sudah ruku, maka jika ia ingin menjadi makmum harus mengikuti gerakan imam, seteah takbir langsung rukuk. begitupula kalau imam sedang sujud, setelah takbir angsung sujud dan mengikuti gerakan imam.

Masalah ia mendapatkan rakaat atau tidak dilihat, jika ia sempa rukuk dengan imam maka mendapatkan satu rakaat jika tidak maka tidak

Selasa, 06 Mei 2014

Dua Kali Manjadi Makmum


Tanya

assalamualaikum ustadz. ada pertanyaan : sy sering melihat 2 orang masbuk, kemudian ketika imam selesai sholat ( salam) salah satu dari kedua orang tsb mundur dan menjadi makmum. kemudian mereka meneruskan sisa rakaat secara berjamaah. apakah hal tersebut memungkinkan?
 Waalaikum salam

Jawab

Mungkin maksudnya si makmum yang mundur itu niat untuk jadi makmum kepada lainnya setelah selesai sholat imam. Hukum niat menjadi makmum di tengah sholat itu boleh dan sah hukumnya namun makruh dan tidak mendapatkan pahala jamaah.

حواشي الشرواني والعبادي (2/ 335)
لكن قضية ما سيأتي أن الاقتداء في أثناء الصلاة مكروه مفوت لفضيلة الجماعة حتى فيما أدركه مع الامام عدم حصول الفضيلة

Senin, 05 Mei 2014

Hukum Mengqodho Shalat



Tanya

Assalamualaikum ustadz,
ana mw tanya apakah wajib mengqodho sholat fardhu kita yang kita tinggal kan,saat kita mulai terhitung baligh

Jawab

wa'alalikum salam wr. wb.
Kewajiban shalat pada tiap individu diwajibkan ketika ia sudah baligh. Dan jika ia tinggalkan setelah baligh, maka wajib untuk mengqodho'inya.
Adapun untuk shalat yang ditinggalkan sebelum baligh, maka tidak wajib mengqodho'inya. Dan shalat yang telah dikerjakan sebelum baligh, lalu menjadi baligh sebelum keluarnya waktu, maka tidak wajib mengulangi kembali (i'adah) melainkan hanya sunnah saja.

روضة الطالبين وعمدة المفتين (1/ 99، بترقيم الشاملة آليا)
من فاتته صلاة فريضة وجب قضاؤها وينبغي أن يقضيها على الفور فإن أخرها ففيه كلام نذكره في الحج إن شاء الله تعالى فإن قضى فائتة الليل بالليل جهر وإن قضى فائتة النهار بالنهار أسر وإن قضى فائتة النهار ليلا أو عكس فالاعتبار بوقت القضاء على الأصح وعلى الثاني بوقت الفوائت.
قلت صلاة الصبح وإن كانت نهارية فهي في القضاء جهرية ولوقتها حكم الليل في الجهر وإطلاقهم محمول على هذا والله أعلم.
ويستحب في قضاء الصلوات الترتيب ولا يجب في قضائها ولا بين فريضة الوقت والمقضية فإن دخل وقت فريضة وتذكر فائتة فإن اتسع وقت الحاضرة استحب البداءة بالفائتة وإن ضاق وجب تقديم الحاضرة ولو تذكر الفائتة بعد شروعه في الحاضرة أتمها ضاق الوقت أم اتسع ثم يقضي الفائتة ويستحب أن يعيد الحاضرة بعدها.

روضة الطالبين وعمدة المفتين (1/ 69، بترقيم الشاملة آليا)
فرع
جميع ما ذكرناه هو فيما إذا كان زوال العذر قبل أداء وهذا يكون حال من سوى الصبي من أصحاب الأسباب فإنها كما تمنع الوجوب تمنع الصحة وأما الصبي إذا صلى وظيفة الوقت ثم بلغ قبل خروج الوقت فيستحب له أن يعيدها ولا تجب الإعادة على الصحيح والثاني تجب قاله ابن سريج سواء قل الباقي من الوقت أم كثر والثالث قاله الإصطخري إن بلغ وقد بقي من الوقت ما يسع تلك الصلاة وجبت الإعادة وإلا فلا أما إذا بلغ بالسن في أثنائها فالصحيح وظاهر النص وما عليه الجمهور أنه يجب إتمامها ويستحب الإعادة والثاني يستحب الإتمام وتجب الإعادة والثالث قاله الإصطخري إن بقي ما يسع الصلاة وجبت الإعادة وإلا فلا هذا كله في غير الجمعة أما إذا صلى الظهر يوم الجمعة ثم بلغ وأمكنته الجمعة فإن قلنا في سائر الصلوات تجب الاعادة وجبت الجمعة وإلا فالصحيح أنها لا تجب كالمسافر والعبد إذا صليا الظهر ثم زال عذرهما وأمكنتهما الجمعة لا تلزمهما قطعا الحال الثاني أن يخلو أول الوقت من الأعذار المذكورة ثم يطرأ ما يمكن أن يطرأ وهو الحيض والنفاس والجنون والإغماء ولا يتصور طريان الكفر المسقط للإعادة فإذا حاضت في أثناء الوقت قبل أن تصلي نظر في القدر الماضي من الوقت إن كان قدرا يسع تلك الصلاة وجب القضاء إذا طهرت على المذهب وخرج ابن سريج قولا أنه لا يجب إلا إذا أدركت جميع الوقت ثم على المذهب المعتبر أخف ما يمكن من الصلاة حتى لو طولت صلاتها فحاضت فيها وقد مضى من الوقت ما يسعها لو خفقها وجب القضاء ولو كان الرجل مسافرا فطرأ عليه جنون أو إغماء بعد ما مضى من وقت الصلاة المقصورة ما يسع ركعتين لزمه قضاؤها لأنه لو قصر أمكنه أداؤها ولا يعتبر مع إمكان فعلها إمكان الطهارة لأنه يمكن تقديمها قبل الوقت إلا إذا لم يجز تقديم طهارة صاحب الواقعة كالمتيمم والمستحاضة.

أسنى المطالب (2/ 217)
( وَإِنْ صَلَّى ) صَبِيٌّ وَظِيفَةَ الْوَقْتِ ( ثُمَّ بَلَغَ ) أَجْزَأَتْهُ صَلَاتُهُ وَلَوْ عَنْ الْجُمُعَةِ وَإِنْ أَمْكَنَ إدْرَاكُهَا لِأَنَّهُ أَدَّاهَا صَحِيحَةً فَلَا تَجِبُ إعَادَتُهَا كَأَمَةٍ صَلَّتْ مَكْشُوفَةَ الرَّأْسِ وَعَتَقَتْ فِي الْوَقْتِ بِخِلَافِ نَظِيرِهِ فِي الْحَجِّ لِأَنَّهُ لَا يَتَكَرَّرُ فَاعْتُبِرَ وُقُوعُهُ حَالَ الْكَمَالِ ( أَوْ بَلَغَ فِي أَثْنَائِهَا لَزِمَهُ إتْمَامُهَا ) لِأَنَّهُ أَدْرَكَ الْوُجُوبَ وَهِيَ صَحِيحَةٌ فَلَزِمَهُ إتْمَامُهَا ( وَأَجْزَأَتْهُ وَلَوْ عَنْ الْجُمُعَةِ ) لِأَنَّهُ صَلَّى الْوَاجِبَ بِشَرْطِهِ وَقَدْ تَجِبُ إتْمَامُ الْعِبَادَةِ وَإِنْ كَانَ أَوَّلُهَا تَطَوُّعًا كَحَجِّ تَطَوُّعٍ وَصَوْمِ مَرِيضٍ شُفِيَ فِي أَثْنَائِهِ ( وَتُسْتَحَبُّ لَهُ الْإِعَادَةُ ) فِي الصُّورَتَيْنِ لِيُؤَدِّيَهَا حَالَةَ الْكَمَالِ وَبِذَلِكَ عُلِمَ أَنَّ قَوْلَهُ لَزِمَهُ إتْمَامُهَا إنَّمَا هُوَ جَوَابٌ لِلثَّانِيَةِ وَأَنَّ مَا بَعْدَهُ مُشْتَرَكٌ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْأُولَى وَأَنَّ مَحَلَّ لُزُومِ الصَّلَاةِ بِزَوَالِ الْمَانِعِ فِي الْوَقْتِ إذَا لَمْ تُؤَدَّ حَالَةَ الْمَانِعِ وَلَا يُتَصَوَّرُ إلَّا فِي الصَّبِيِّ لِأَنَّ بَقِيَّةَ الْمَوَانِعِ كَمَا تَمْنَعُ الْوُجُوبَ تَمْنَعُ الصِّحَّةَ ( وَلَوْ زَالَتْ ) أَيْ الْمَوَانِعُ ( فِي وَقْتِ الْعَصْرِ ) أَوَّلَهُ أَوْ وَسَطَهُ ( وَلَبِثَ ) الشَّخْصُ بِلَا مَانِعٍ ( مَا يَسَعُ الطَّهَارَةَ ) إنْ لَمْ يُمْكِنْ تَقْدِيمُهَا ( وَ ) مَا يَسَعُ ( أَدَاءُ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ ثُمَّ جُنَّ ) ( لَزِمَتَاهُ ) كَمَا تَلْزَمُهُ بِآخِرِهِ وَهَذَا عُلِمَ مِمَّا تَقَدَّمَ ، وَمِثْلُهُ الْمَغْرِبُ مَعَ الْعِشَاءِ

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More